Di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus.[1]
(Lukas 19:1-10)
Menurut cerita dulu, Zakheus selalu bangun pagi-pagi dan berangkat dari rumahnya. Istrinya sangat ingin tahu perilaku yang aneh sang suaminya. Dia lalu memutuskan untuk mengikutinya pda suatu pagi dengan maksud untuk melihat apa yang diperbuat suaminya. Dia memperhatikan bahwa suaminya mengambil sebuah ember dan berjalan menuju sumur, mengisinya dengan air, kemudian berjalan lagi ke luar dari gerbang kota. Zakheus lalu berhenti pada pohon Sikamor. Dia meletakkan ember itu dan mulai membersihkan rumput dan sampah di bawah pohon itu. Dia lalu berdiri memandang pohon itu dengan rasa kagum. Pada saat itu istrinya ke luar dari tempat persembunyiaanya dan bertanya mengapa dia melakukan hal itu. Tanpa ragu, Zakheus memberikan jawaban secara spontan terhadap pertanyaan istrinya: “di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus!”
Lukas penulis Injil (Luk 19:1-10) menggambarkan betapa Tuhan mencintai manusia. karena cinta-Nya, Allah menciptakan kita, karena itu Ia tidak menghendaki kehancuran atau kematian manusia ciptaan-Nya sendiri. Ia selalu siap untuk mencintai dan mengampuni kesalahan, kekurangan dan kelemahan kita. Injil berbicara tentang perubahan hidup seorang pemungut pajak yang kaya raya, namanya ZAKHEUS-arrtinya “YANG BERSIH”. Zakheus adalah seorang yang terkenal kaya. Mungkin orang kaya baru di tempatnya. Meskipun sibuk mengurus keuangan, dia ingin sekali melihat Yesus. Mungkin dia ada niat khusus. Ketika Yesus lewat di kotanya yang bernama yerikho, dia cepat-cepat mencari tempat yang strategis di mana Yesus bakal lewat. Ia memanjat pohon untuk bisa melihat Yesus, sebab perawakannya pendek.dia begitu berjuang untuk melihat: orang macam apa Yesus itu!
Zakheus pemungut pajak yang sering dijengkeli masyarakat, ketika mendapat perhatian dan sentuhan Yesus: “Zakheus, turunlah segera. Aku mau menginap di rumahmu!” Ia menjadi sadar bahwa ia sedang tersesat dalam kekayaannya sendiri. Karena itu ia membutuhkan keselamatan. Justru karena kebutuhan akan keselamataninilah, Yesus Kristus mendatangi dia di rumahnya. “Hari ini keselamatan telah turun ke atas rumah ini!”. Perbuatan Yesus ini dilihat sebagai skandal yang membingungkan orang banyak dan pemimpin setempat. Yesus berbuat demikian bukan untuk mencari popularitas, bukan mencari nama besar, tetapi karena Ia ingat nasib hidup orang lain. Ia bersabda: “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Aku datang untuk mencari dan menemukan serta menyelamatkan yang hilang”.
Suatu peristiwa yang mengagumkan bahwa Yesus Kristus berhasil membantu Zakheus dalam usahanya mengubah dirinya. Yesus Kristus tahu bahwa Zakheus, seperti orang tersingkir lainnya membawa serta dalam dirinya seberkas kebaikan yang perlu diangkat ke permukaan hidup hariannya. Zakheus sudah sekian lama hidup sebagai seorang selalu ingat diri dan merasa puas diri. Ia sadar kembali ketika ia berdiri berhadapan muka langsung dengan Yesus Kristus. Dalam pandangan mata Yesus Kristus, Zakheus menemukan dirinya sebagai seorang berdosa yang masih ada harapan untuk baik kembali. Dalam pertemuan dengan Yesus Kristus, ia merasa dan mengalami dirinya seperti seorang yang telah bangkit dari kematian. Ia menemukan Yesus Kristus sebagai jalan, kebenaran, dan hidupnya sendiri. Tidak heran kalau Zakheus sungguh memberi perhatian khusus pada pohon pertemuan itu. “di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus”.
Benar juga kalau dikatakan bahawa melalui pertemuan dan perhatian ada keselamatan. Andaikata kita pengikut Yesus Kristus sekarang ini memiliki sedikit semangat-Nya, apa yang akan terjadi dengan dunia ini? Ingat, bahwa ada begitu banyak orang yang ingin sekali melihat Yesus Kristus. Sempatkah mereka mengalami dan merasakan kehadiran Yesus Kristus yang begitu rama, penuh perhatian, melalui kata dan perbuatan kita? Seandainya sebagai guru, saya lebih banyak memberi perhatian bukan terhadap anak-anak yang cerdas tetapi pada anak yang lemah. Seandainya sebagai orang tu, saya dapat memberikan perhatian terhadap anak yang murung dan susah lebih daripada terhadap anak yang patuh. Seandainya sebagai tetangga yang baik saya dapat merangkul dan menjadikan sesama tetangga yang menemukan kesulitan hidup dan yang disisihkan atau kurang mendapat perhatian lebih daripada sesama yang baik. Seandainya sebagai dokter atau perawat kesehatan, saya dapat memberikan perhatian dan pelayanan yang sungguh-sungguh kepada para pasien miskin, yang tidak mempunyai apa-apa untuk membalas jasaku lebih daripada orang kaya raya, bagaiman keadaan hidupnya?
Kita semua, kalau mau jujur, juga akan mengalami seperti Zakheus. Kita membutuhkan keselamatan. Kita mebutuhkan Yesus untuk mendatangi kita. Kita membutuhkan cinta-Nya agar kita bisa mengatasi rasa egoisme, ingat diri dan rasa puas diri kita, supaya kita dapat memberi perhatian yang jujur dan ikhlas kepada orang lain di sekitar kita. Sikap menerima dari Yesus Kristus membuat Zakheus mengalami dan merasakan sesuatu yang sedang berganti di dalam diri dan hidupnya. Ia menjadi manusia baru. Ia menjadi seorang Zakheus yang sejati-seorang yang bersih. Dalam perayaan ekaristi kudus kita bertemu dan menerima Yesus Kristus ke dalam hati dan hidup kita. Kita datang untuk melihat Yesus. Kita datang untuk mendengarkan Yesus. Kita datang untuk menyentuh dan disentuh oleh Yesus. Ia mengajak kita semua untuk segera kembali ke rumah, karena ia mau tinggal bersama kita di rumah sebagai tamu. Apakah kita dapat mengatakan bahwa rumah kita masing-msing adalah tempat kita bertemu dengan Yesus Kristus?
“hal yang mengesankan saya perihal Yesus Kristus adalah bahwa tidak ada perbedaan antara apa yang Ia katakan dan apa yang Ia perbuat” (Perez Esquivel).
“Di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus!”
Pengalaman ini mestinya bisa berulang kembali di tempat ini juga, di rumah atau di tempat kerja kita atau di mana saja kita berada. Sebagai orang beriman kepda Yesus Kristus, mestinya menampakkan Pribadi Yesus Kristus dan sifat-sifatNya dalam sikap dan tingkah laku kita sehari-hari. Sebagai tanda yang hidup dari Yesus Kristus, mestinya dalam diri dan hidup kiata, siapa saja bisa bertemu dengan Yesus Kristus.
by P. Tobby, SVD
Copyed by Lucius T, (untuk Renungan Salve Jam Kudus 7 Feb 2008)
[1] by P. Tobby, SVD
Copyed by Lucius T, (renungan Salve Jam Kudus 7 Feb 2008)
(Lukas 19:1-10)
Menurut cerita dulu, Zakheus selalu bangun pagi-pagi dan berangkat dari rumahnya. Istrinya sangat ingin tahu perilaku yang aneh sang suaminya. Dia lalu memutuskan untuk mengikutinya pda suatu pagi dengan maksud untuk melihat apa yang diperbuat suaminya. Dia memperhatikan bahwa suaminya mengambil sebuah ember dan berjalan menuju sumur, mengisinya dengan air, kemudian berjalan lagi ke luar dari gerbang kota. Zakheus lalu berhenti pada pohon Sikamor. Dia meletakkan ember itu dan mulai membersihkan rumput dan sampah di bawah pohon itu. Dia lalu berdiri memandang pohon itu dengan rasa kagum. Pada saat itu istrinya ke luar dari tempat persembunyiaanya dan bertanya mengapa dia melakukan hal itu. Tanpa ragu, Zakheus memberikan jawaban secara spontan terhadap pertanyaan istrinya: “di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus!”
Lukas penulis Injil (Luk 19:1-10) menggambarkan betapa Tuhan mencintai manusia. karena cinta-Nya, Allah menciptakan kita, karena itu Ia tidak menghendaki kehancuran atau kematian manusia ciptaan-Nya sendiri. Ia selalu siap untuk mencintai dan mengampuni kesalahan, kekurangan dan kelemahan kita. Injil berbicara tentang perubahan hidup seorang pemungut pajak yang kaya raya, namanya ZAKHEUS-arrtinya “YANG BERSIH”. Zakheus adalah seorang yang terkenal kaya. Mungkin orang kaya baru di tempatnya. Meskipun sibuk mengurus keuangan, dia ingin sekali melihat Yesus. Mungkin dia ada niat khusus. Ketika Yesus lewat di kotanya yang bernama yerikho, dia cepat-cepat mencari tempat yang strategis di mana Yesus bakal lewat. Ia memanjat pohon untuk bisa melihat Yesus, sebab perawakannya pendek.dia begitu berjuang untuk melihat: orang macam apa Yesus itu!
Zakheus pemungut pajak yang sering dijengkeli masyarakat, ketika mendapat perhatian dan sentuhan Yesus: “Zakheus, turunlah segera. Aku mau menginap di rumahmu!” Ia menjadi sadar bahwa ia sedang tersesat dalam kekayaannya sendiri. Karena itu ia membutuhkan keselamatan. Justru karena kebutuhan akan keselamataninilah, Yesus Kristus mendatangi dia di rumahnya. “Hari ini keselamatan telah turun ke atas rumah ini!”. Perbuatan Yesus ini dilihat sebagai skandal yang membingungkan orang banyak dan pemimpin setempat. Yesus berbuat demikian bukan untuk mencari popularitas, bukan mencari nama besar, tetapi karena Ia ingat nasib hidup orang lain. Ia bersabda: “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Aku datang untuk mencari dan menemukan serta menyelamatkan yang hilang”.
Suatu peristiwa yang mengagumkan bahwa Yesus Kristus berhasil membantu Zakheus dalam usahanya mengubah dirinya. Yesus Kristus tahu bahwa Zakheus, seperti orang tersingkir lainnya membawa serta dalam dirinya seberkas kebaikan yang perlu diangkat ke permukaan hidup hariannya. Zakheus sudah sekian lama hidup sebagai seorang selalu ingat diri dan merasa puas diri. Ia sadar kembali ketika ia berdiri berhadapan muka langsung dengan Yesus Kristus. Dalam pandangan mata Yesus Kristus, Zakheus menemukan dirinya sebagai seorang berdosa yang masih ada harapan untuk baik kembali. Dalam pertemuan dengan Yesus Kristus, ia merasa dan mengalami dirinya seperti seorang yang telah bangkit dari kematian. Ia menemukan Yesus Kristus sebagai jalan, kebenaran, dan hidupnya sendiri. Tidak heran kalau Zakheus sungguh memberi perhatian khusus pada pohon pertemuan itu. “di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus”.
Benar juga kalau dikatakan bahawa melalui pertemuan dan perhatian ada keselamatan. Andaikata kita pengikut Yesus Kristus sekarang ini memiliki sedikit semangat-Nya, apa yang akan terjadi dengan dunia ini? Ingat, bahwa ada begitu banyak orang yang ingin sekali melihat Yesus Kristus. Sempatkah mereka mengalami dan merasakan kehadiran Yesus Kristus yang begitu rama, penuh perhatian, melalui kata dan perbuatan kita? Seandainya sebagai guru, saya lebih banyak memberi perhatian bukan terhadap anak-anak yang cerdas tetapi pada anak yang lemah. Seandainya sebagai orang tu, saya dapat memberikan perhatian terhadap anak yang murung dan susah lebih daripada terhadap anak yang patuh. Seandainya sebagai tetangga yang baik saya dapat merangkul dan menjadikan sesama tetangga yang menemukan kesulitan hidup dan yang disisihkan atau kurang mendapat perhatian lebih daripada sesama yang baik. Seandainya sebagai dokter atau perawat kesehatan, saya dapat memberikan perhatian dan pelayanan yang sungguh-sungguh kepada para pasien miskin, yang tidak mempunyai apa-apa untuk membalas jasaku lebih daripada orang kaya raya, bagaiman keadaan hidupnya?
Kita semua, kalau mau jujur, juga akan mengalami seperti Zakheus. Kita membutuhkan keselamatan. Kita mebutuhkan Yesus untuk mendatangi kita. Kita membutuhkan cinta-Nya agar kita bisa mengatasi rasa egoisme, ingat diri dan rasa puas diri kita, supaya kita dapat memberi perhatian yang jujur dan ikhlas kepada orang lain di sekitar kita. Sikap menerima dari Yesus Kristus membuat Zakheus mengalami dan merasakan sesuatu yang sedang berganti di dalam diri dan hidupnya. Ia menjadi manusia baru. Ia menjadi seorang Zakheus yang sejati-seorang yang bersih. Dalam perayaan ekaristi kudus kita bertemu dan menerima Yesus Kristus ke dalam hati dan hidup kita. Kita datang untuk melihat Yesus. Kita datang untuk mendengarkan Yesus. Kita datang untuk menyentuh dan disentuh oleh Yesus. Ia mengajak kita semua untuk segera kembali ke rumah, karena ia mau tinggal bersama kita di rumah sebagai tamu. Apakah kita dapat mengatakan bahwa rumah kita masing-msing adalah tempat kita bertemu dengan Yesus Kristus?
“hal yang mengesankan saya perihal Yesus Kristus adalah bahwa tidak ada perbedaan antara apa yang Ia katakan dan apa yang Ia perbuat” (Perez Esquivel).
“Di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus!”
Pengalaman ini mestinya bisa berulang kembali di tempat ini juga, di rumah atau di tempat kerja kita atau di mana saja kita berada. Sebagai orang beriman kepda Yesus Kristus, mestinya menampakkan Pribadi Yesus Kristus dan sifat-sifatNya dalam sikap dan tingkah laku kita sehari-hari. Sebagai tanda yang hidup dari Yesus Kristus, mestinya dalam diri dan hidup kiata, siapa saja bisa bertemu dengan Yesus Kristus.
by P. Tobby, SVD
Copyed by Lucius T, (untuk Renungan Salve Jam Kudus 7 Feb 2008)
[1] by P. Tobby, SVD
Copyed by Lucius T, (renungan Salve Jam Kudus 7 Feb 2008)
