Rabu, 21 Januari 2009
Kamis, 24 April 2008
belajar dari Zakheus
Di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus.[1]
(Lukas 19:1-10)
Menurut cerita dulu, Zakheus selalu bangun pagi-pagi dan berangkat dari rumahnya. Istrinya sangat ingin tahu perilaku yang aneh sang suaminya. Dia lalu memutuskan untuk mengikutinya pda suatu pagi dengan maksud untuk melihat apa yang diperbuat suaminya. Dia memperhatikan bahwa suaminya mengambil sebuah ember dan berjalan menuju sumur, mengisinya dengan air, kemudian berjalan lagi ke luar dari gerbang kota. Zakheus lalu berhenti pada pohon Sikamor. Dia meletakkan ember itu dan mulai membersihkan rumput dan sampah di bawah pohon itu. Dia lalu berdiri memandang pohon itu dengan rasa kagum. Pada saat itu istrinya ke luar dari tempat persembunyiaanya dan bertanya mengapa dia melakukan hal itu. Tanpa ragu, Zakheus memberikan jawaban secara spontan terhadap pertanyaan istrinya: “di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus!”
Lukas penulis Injil (Luk 19:1-10) menggambarkan betapa Tuhan mencintai manusia. karena cinta-Nya, Allah menciptakan kita, karena itu Ia tidak menghendaki kehancuran atau kematian manusia ciptaan-Nya sendiri. Ia selalu siap untuk mencintai dan mengampuni kesalahan, kekurangan dan kelemahan kita. Injil berbicara tentang perubahan hidup seorang pemungut pajak yang kaya raya, namanya ZAKHEUS-arrtinya “YANG BERSIH”. Zakheus adalah seorang yang terkenal kaya. Mungkin orang kaya baru di tempatnya. Meskipun sibuk mengurus keuangan, dia ingin sekali melihat Yesus. Mungkin dia ada niat khusus. Ketika Yesus lewat di kotanya yang bernama yerikho, dia cepat-cepat mencari tempat yang strategis di mana Yesus bakal lewat. Ia memanjat pohon untuk bisa melihat Yesus, sebab perawakannya pendek.dia begitu berjuang untuk melihat: orang macam apa Yesus itu!
Zakheus pemungut pajak yang sering dijengkeli masyarakat, ketika mendapat perhatian dan sentuhan Yesus: “Zakheus, turunlah segera. Aku mau menginap di rumahmu!” Ia menjadi sadar bahwa ia sedang tersesat dalam kekayaannya sendiri. Karena itu ia membutuhkan keselamatan. Justru karena kebutuhan akan keselamataninilah, Yesus Kristus mendatangi dia di rumahnya. “Hari ini keselamatan telah turun ke atas rumah ini!”. Perbuatan Yesus ini dilihat sebagai skandal yang membingungkan orang banyak dan pemimpin setempat. Yesus berbuat demikian bukan untuk mencari popularitas, bukan mencari nama besar, tetapi karena Ia ingat nasib hidup orang lain. Ia bersabda: “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Aku datang untuk mencari dan menemukan serta menyelamatkan yang hilang”.
Suatu peristiwa yang mengagumkan bahwa Yesus Kristus berhasil membantu Zakheus dalam usahanya mengubah dirinya. Yesus Kristus tahu bahwa Zakheus, seperti orang tersingkir lainnya membawa serta dalam dirinya seberkas kebaikan yang perlu diangkat ke permukaan hidup hariannya. Zakheus sudah sekian lama hidup sebagai seorang selalu ingat diri dan merasa puas diri. Ia sadar kembali ketika ia berdiri berhadapan muka langsung dengan Yesus Kristus. Dalam pandangan mata Yesus Kristus, Zakheus menemukan dirinya sebagai seorang berdosa yang masih ada harapan untuk baik kembali. Dalam pertemuan dengan Yesus Kristus, ia merasa dan mengalami dirinya seperti seorang yang telah bangkit dari kematian. Ia menemukan Yesus Kristus sebagai jalan, kebenaran, dan hidupnya sendiri. Tidak heran kalau Zakheus sungguh memberi perhatian khusus pada pohon pertemuan itu. “di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus”.
Benar juga kalau dikatakan bahawa melalui pertemuan dan perhatian ada keselamatan. Andaikata kita pengikut Yesus Kristus sekarang ini memiliki sedikit semangat-Nya, apa yang akan terjadi dengan dunia ini? Ingat, bahwa ada begitu banyak orang yang ingin sekali melihat Yesus Kristus. Sempatkah mereka mengalami dan merasakan kehadiran Yesus Kristus yang begitu rama, penuh perhatian, melalui kata dan perbuatan kita? Seandainya sebagai guru, saya lebih banyak memberi perhatian bukan terhadap anak-anak yang cerdas tetapi pada anak yang lemah. Seandainya sebagai orang tu, saya dapat memberikan perhatian terhadap anak yang murung dan susah lebih daripada terhadap anak yang patuh. Seandainya sebagai tetangga yang baik saya dapat merangkul dan menjadikan sesama tetangga yang menemukan kesulitan hidup dan yang disisihkan atau kurang mendapat perhatian lebih daripada sesama yang baik. Seandainya sebagai dokter atau perawat kesehatan, saya dapat memberikan perhatian dan pelayanan yang sungguh-sungguh kepada para pasien miskin, yang tidak mempunyai apa-apa untuk membalas jasaku lebih daripada orang kaya raya, bagaiman keadaan hidupnya?
Kita semua, kalau mau jujur, juga akan mengalami seperti Zakheus. Kita membutuhkan keselamatan. Kita mebutuhkan Yesus untuk mendatangi kita. Kita membutuhkan cinta-Nya agar kita bisa mengatasi rasa egoisme, ingat diri dan rasa puas diri kita, supaya kita dapat memberi perhatian yang jujur dan ikhlas kepada orang lain di sekitar kita. Sikap menerima dari Yesus Kristus membuat Zakheus mengalami dan merasakan sesuatu yang sedang berganti di dalam diri dan hidupnya. Ia menjadi manusia baru. Ia menjadi seorang Zakheus yang sejati-seorang yang bersih. Dalam perayaan ekaristi kudus kita bertemu dan menerima Yesus Kristus ke dalam hati dan hidup kita. Kita datang untuk melihat Yesus. Kita datang untuk mendengarkan Yesus. Kita datang untuk menyentuh dan disentuh oleh Yesus. Ia mengajak kita semua untuk segera kembali ke rumah, karena ia mau tinggal bersama kita di rumah sebagai tamu. Apakah kita dapat mengatakan bahwa rumah kita masing-msing adalah tempat kita bertemu dengan Yesus Kristus?
“hal yang mengesankan saya perihal Yesus Kristus adalah bahwa tidak ada perbedaan antara apa yang Ia katakan dan apa yang Ia perbuat” (Perez Esquivel).
“Di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus!”
Pengalaman ini mestinya bisa berulang kembali di tempat ini juga, di rumah atau di tempat kerja kita atau di mana saja kita berada. Sebagai orang beriman kepda Yesus Kristus, mestinya menampakkan Pribadi Yesus Kristus dan sifat-sifatNya dalam sikap dan tingkah laku kita sehari-hari. Sebagai tanda yang hidup dari Yesus Kristus, mestinya dalam diri dan hidup kiata, siapa saja bisa bertemu dengan Yesus Kristus.
by P. Tobby, SVD
Copyed by Lucius T, (untuk Renungan Salve Jam Kudus 7 Feb 2008)
[1] by P. Tobby, SVD
Copyed by Lucius T, (renungan Salve Jam Kudus 7 Feb 2008)
(Lukas 19:1-10)
Menurut cerita dulu, Zakheus selalu bangun pagi-pagi dan berangkat dari rumahnya. Istrinya sangat ingin tahu perilaku yang aneh sang suaminya. Dia lalu memutuskan untuk mengikutinya pda suatu pagi dengan maksud untuk melihat apa yang diperbuat suaminya. Dia memperhatikan bahwa suaminya mengambil sebuah ember dan berjalan menuju sumur, mengisinya dengan air, kemudian berjalan lagi ke luar dari gerbang kota. Zakheus lalu berhenti pada pohon Sikamor. Dia meletakkan ember itu dan mulai membersihkan rumput dan sampah di bawah pohon itu. Dia lalu berdiri memandang pohon itu dengan rasa kagum. Pada saat itu istrinya ke luar dari tempat persembunyiaanya dan bertanya mengapa dia melakukan hal itu. Tanpa ragu, Zakheus memberikan jawaban secara spontan terhadap pertanyaan istrinya: “di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus!”
Lukas penulis Injil (Luk 19:1-10) menggambarkan betapa Tuhan mencintai manusia. karena cinta-Nya, Allah menciptakan kita, karena itu Ia tidak menghendaki kehancuran atau kematian manusia ciptaan-Nya sendiri. Ia selalu siap untuk mencintai dan mengampuni kesalahan, kekurangan dan kelemahan kita. Injil berbicara tentang perubahan hidup seorang pemungut pajak yang kaya raya, namanya ZAKHEUS-arrtinya “YANG BERSIH”. Zakheus adalah seorang yang terkenal kaya. Mungkin orang kaya baru di tempatnya. Meskipun sibuk mengurus keuangan, dia ingin sekali melihat Yesus. Mungkin dia ada niat khusus. Ketika Yesus lewat di kotanya yang bernama yerikho, dia cepat-cepat mencari tempat yang strategis di mana Yesus bakal lewat. Ia memanjat pohon untuk bisa melihat Yesus, sebab perawakannya pendek.dia begitu berjuang untuk melihat: orang macam apa Yesus itu!
Zakheus pemungut pajak yang sering dijengkeli masyarakat, ketika mendapat perhatian dan sentuhan Yesus: “Zakheus, turunlah segera. Aku mau menginap di rumahmu!” Ia menjadi sadar bahwa ia sedang tersesat dalam kekayaannya sendiri. Karena itu ia membutuhkan keselamatan. Justru karena kebutuhan akan keselamataninilah, Yesus Kristus mendatangi dia di rumahnya. “Hari ini keselamatan telah turun ke atas rumah ini!”. Perbuatan Yesus ini dilihat sebagai skandal yang membingungkan orang banyak dan pemimpin setempat. Yesus berbuat demikian bukan untuk mencari popularitas, bukan mencari nama besar, tetapi karena Ia ingat nasib hidup orang lain. Ia bersabda: “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Aku datang untuk mencari dan menemukan serta menyelamatkan yang hilang”.
Suatu peristiwa yang mengagumkan bahwa Yesus Kristus berhasil membantu Zakheus dalam usahanya mengubah dirinya. Yesus Kristus tahu bahwa Zakheus, seperti orang tersingkir lainnya membawa serta dalam dirinya seberkas kebaikan yang perlu diangkat ke permukaan hidup hariannya. Zakheus sudah sekian lama hidup sebagai seorang selalu ingat diri dan merasa puas diri. Ia sadar kembali ketika ia berdiri berhadapan muka langsung dengan Yesus Kristus. Dalam pandangan mata Yesus Kristus, Zakheus menemukan dirinya sebagai seorang berdosa yang masih ada harapan untuk baik kembali. Dalam pertemuan dengan Yesus Kristus, ia merasa dan mengalami dirinya seperti seorang yang telah bangkit dari kematian. Ia menemukan Yesus Kristus sebagai jalan, kebenaran, dan hidupnya sendiri. Tidak heran kalau Zakheus sungguh memberi perhatian khusus pada pohon pertemuan itu. “di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus”.
Benar juga kalau dikatakan bahawa melalui pertemuan dan perhatian ada keselamatan. Andaikata kita pengikut Yesus Kristus sekarang ini memiliki sedikit semangat-Nya, apa yang akan terjadi dengan dunia ini? Ingat, bahwa ada begitu banyak orang yang ingin sekali melihat Yesus Kristus. Sempatkah mereka mengalami dan merasakan kehadiran Yesus Kristus yang begitu rama, penuh perhatian, melalui kata dan perbuatan kita? Seandainya sebagai guru, saya lebih banyak memberi perhatian bukan terhadap anak-anak yang cerdas tetapi pada anak yang lemah. Seandainya sebagai orang tu, saya dapat memberikan perhatian terhadap anak yang murung dan susah lebih daripada terhadap anak yang patuh. Seandainya sebagai tetangga yang baik saya dapat merangkul dan menjadikan sesama tetangga yang menemukan kesulitan hidup dan yang disisihkan atau kurang mendapat perhatian lebih daripada sesama yang baik. Seandainya sebagai dokter atau perawat kesehatan, saya dapat memberikan perhatian dan pelayanan yang sungguh-sungguh kepada para pasien miskin, yang tidak mempunyai apa-apa untuk membalas jasaku lebih daripada orang kaya raya, bagaiman keadaan hidupnya?
Kita semua, kalau mau jujur, juga akan mengalami seperti Zakheus. Kita membutuhkan keselamatan. Kita mebutuhkan Yesus untuk mendatangi kita. Kita membutuhkan cinta-Nya agar kita bisa mengatasi rasa egoisme, ingat diri dan rasa puas diri kita, supaya kita dapat memberi perhatian yang jujur dan ikhlas kepada orang lain di sekitar kita. Sikap menerima dari Yesus Kristus membuat Zakheus mengalami dan merasakan sesuatu yang sedang berganti di dalam diri dan hidupnya. Ia menjadi manusia baru. Ia menjadi seorang Zakheus yang sejati-seorang yang bersih. Dalam perayaan ekaristi kudus kita bertemu dan menerima Yesus Kristus ke dalam hati dan hidup kita. Kita datang untuk melihat Yesus. Kita datang untuk mendengarkan Yesus. Kita datang untuk menyentuh dan disentuh oleh Yesus. Ia mengajak kita semua untuk segera kembali ke rumah, karena ia mau tinggal bersama kita di rumah sebagai tamu. Apakah kita dapat mengatakan bahwa rumah kita masing-msing adalah tempat kita bertemu dengan Yesus Kristus?
“hal yang mengesankan saya perihal Yesus Kristus adalah bahwa tidak ada perbedaan antara apa yang Ia katakan dan apa yang Ia perbuat” (Perez Esquivel).
“Di sinilah tempatnya saya bertemu dengan Yesus Kristus!”
Pengalaman ini mestinya bisa berulang kembali di tempat ini juga, di rumah atau di tempat kerja kita atau di mana saja kita berada. Sebagai orang beriman kepda Yesus Kristus, mestinya menampakkan Pribadi Yesus Kristus dan sifat-sifatNya dalam sikap dan tingkah laku kita sehari-hari. Sebagai tanda yang hidup dari Yesus Kristus, mestinya dalam diri dan hidup kiata, siapa saja bisa bertemu dengan Yesus Kristus.
by P. Tobby, SVD
Copyed by Lucius T, (untuk Renungan Salve Jam Kudus 7 Feb 2008)
[1] by P. Tobby, SVD
Copyed by Lucius T, (renungan Salve Jam Kudus 7 Feb 2008)
Minggu, 20 April 2008

Budaya Islam Dan Barat Di Indonesia Menurut Supartono
Oleh Lucius Tumanggor
1. Pengantar
Budaya Islam dan Budaya Barat masuk ke dalam budaya Indonesia. Mereka mem berikan sumbangan dalam perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia. Apakah benar kebudayaan Islam dan kebudayaan Barat memberikan sumbangan yang besar bagi kebudayaan bangsa Indonesia? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab sebelum mengetahui kebudayaan bangsa Indonesia. Di bawah ini kami akan mendiskusikan budaya Islam dan Barat di Indonesia dalam tulisan Supartono dan sumbangan apa yang menonjol untuk budaya Indonesia.
2. Budaya Islam Di Indonesia
Supartono melihat bahwa budaya Islam memiliki pengaruh kuat terhadap perubahan budaya Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan. Pengaruh yang kuat ditandai dengan lahirnya berbagai ciri-ciri dalam“wajah” keIndonesiaan secara khusus di tubuh keIslaman.
Supartono mengatakan bahwa Indonesia dari segi bangunan fisik terdapat beragam warisan Islam yang dieksport dari dunia Arab, seperti: Budaya istana. Dalam budaya istana ditemukan adanya tata pemerintahan, bangunan istana, masjid agung dan istana sebagai pusat budaya.
Dalam budaya istana dikatakan bahwa raja adalah pimpinan tertinggi suatu negara dan berperan besar terhadap soal agama. Bagi Indonesia, Supartono mengatakan bahwa raja digelari sebagai sultan. Gelar sultan bagi setiap raja diperoleh dari persetujuan kalif yang memerintah di Timur-Tengah. Sultan pun dipandang sebagai tanda kepala negara suatu negara Islam.
Dalam hal bangunan istana, Supartono mengatakan bahwa kualitas bangunan istana sultan lebih kuat dari bangunan-bangunan kerajaan sebelumnya. Dia menunjukkkan kualitas bangunan sarat dengan keamanan raja/sultan. Istana raja yang kuat merupakan benteng pertahanan terakhir suatu negara. Dan selain untuk pertahanan, istana sultan diperlukan guna menjungjung tinggi martabat raja terhadap raja lain maupun rakyatnya sendiri.
Supartono mengatakan bahwa seorang sultan berkewajiban membangun masjid agung untuk shalat warga dan sekaligus juga sebagai kebanggaannya. Masjid agung masih banyak dijumpai di Indonesia ini khususnya di provinsi-provinsi. Masjid agung dibuat sesuai dengan pola zamannya.
Supartono juga mengatakan bahwa istana sebagai pusat budaya. Sultan dapat berbuat banyak untuk perkembangan kebudayaan di negaranya. Budaya yang ditampilkan dalam istana dipandang bernilai tinggi, sehingga masyarakat biasa tidak boleh untuk meniru dan mempraktekkannya dalam konteks rakyat biasa.
Selain dari bangunan fisik, Supartono mengatakan kesenian istana. Kesenian istana memiliki ciri-ciri artistik yang tinggi, istana sebagai macro cosmos memberikan pancaran kepada rakyat sebagai micro cosmos, cerita-cerita yang ditampilkan menonjolkan nilai-nilai aristokrat, dan pertunjukan dipandang sakral.
Di Indonesia banyak dijumpai masjid. Supartono membedakan jenis masjid sesuai dengan perkembangan zaman kecuali masjid makam. Dia menyebut masjid tradisional, masjid makam, masjid modern, dan masjid kontemporer. Fungsi dari masjid ini adalah tempat persujudan, tempat untuk melakukan shalat.
Apa sumbangan yang paling menonjol dari budaya Islam untuk budaya Indonesia?
Indonesia di mata dunia dikenal sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tetapi tidak dapat dikatakan bahwa Indonesia adalah negara Islam, karena Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa, dan agama. keberagaman ini dinamakan “Bhineka Tunggal Ika” yang dikemas dalam satu sistem, yakni Pancasila.
Sumbangan yang dapat kita petik dari budaya Islam antara lain:
Tata pemerintahan ditunjukkan dengan pemberian gelar sultan kepada pemimpin kerajaan.
Bangunan Istana ternyata di pengaruhi kebudayaan Islam. Hal ini dapat dilihat mulainya perkembangan bahan bangunan istana. Bangunan ini terbuat dari batu bata dan sudah dilepa. Penjagaan Istana lebih diperkuat. Selain itu istana sebagai pusat kebudayaan dengan dikembangkan berbagai macam kebudayaan. Salah satunya dalam hal berpakai. Pakai sultan yang dulunya bagian dada terbuka sekarang bagian dada sudah tertutup
Bidang kesenian sudah muncul berbagai kesenian yang dipertontonkan untuk umum, dalam penampilan kesenian lebih merakyat, kadar artistiknya sudah tinggi. Cerita mempunyai nilai-nilai aristokratnya menonjol. Dan sifat pertunjukkanya lebih bersifat sakral. Sifat sakral ini karena diadakan pada hari-hari tertentu saja. Tidak ketinggalan dalam seni kaligrafi.
Munculnya berbagai bentuk bangunan mesjid-mesjid seperti mesjid makam, mesjid modern, mesjid Kontemporer.
Perkembangan yang tidak kalah pentingnya dari budaya Islam di Indonesia. Budaya Islam di Indonesia sangat menonjol dalam lingkaran spiritualisme dan kesufian (kaum ulamawan). Spiritualisme dan kesufian sangat memengaruhi budaya Indonesia di bidang kemasyarakatan dan kenegaraan. Dalam bahan pelajaran antropologi budaya II dituliskan bahwa konsep-konsep tentang adil, adab, rakyat, hikmat, musyawarah, dan wakil adalah sumber dari rumusan dari sila keempat dari pancasila. Sila keempat ini mirip dengan ungkapan Bahasa Arab yang sering dijadikan dalil dan pegangan para ulama, yakni “Ra’s al-hikmah al-mashurah (ra’sul hikmmati almasyuurah), pangkal kebijaksanaan adalah musyawarah”.
Selain tercermin dalam berbagai konsep budaya Islam di Indonesia tercermin dalam pilihan bahasa Melayu (Riau) sebagai bahasa nasional. Jika benar keterangan Sultan Takdir Alisyahbana yang mengatakan bahwa yang mengusulkan dijadikannya bahasa Melayu dan bukan bahasa Jawa misalnya, maka itu adalah petunjuk bahwa pemuda-pemuda Jawa sendiri pada saat itu telah menyadari bahwa bahasa Jawa yang bertingkat-tingkat itu tidak akan cocok untuk suatu masyarakat Indonesia yang mereka cita-citakan, yaitu suatu masyarakat yang modern. Kesadaran itu timbul, lepas dari kenyataan bahwa bahasa Jawa adalah bahasa yang paling kaya di Nusantara dari segi muatan budayanya. Dan muatan budaya bahasa Jawa yang kaya dan luas serta mendalam itu, seperti dengan jelas tercermin dalam kejawen, adalah terutama di bidang spiritualisme (atau, katakan, “kebatinan”). Dan spiritualisme Jawa itupun, seperti telah dikemukakan, banyak terpengaruh oleh sufisme, bentuk lain pengaruh penting Islam dalam budaya Indonesia.
Budaya Islam di Indonesia juga memiliki sisi negatif. Kami melihat bahwa budaya Islam di Indonesia membawa perubahan yang negatif. Masyarakat muslimin/muslimat justru bangga dengan keAraban dari pada kekhasan Indonesia. Misalnya; dalam hal berpakaian. Seorang wanita Indonesia yang biasa menggunakan sarung dan kebaya, kalah pamornya dengan gaun panjang dan jilbab yang menutupi kepala sampai lutut. Anak-anak laki-laki dan perempuan sangat bangga dengan kopiah dan gaun panjang dengan jilbab pergi ke sekolah walaupun sekolah itu adalah milik umum. Bangga dengan budaya Islam tidak hanya tampil lewat ibadah, tetapi juga kebanggaan dan jati dirinya ingin dikenal lewat berpakaian yang hendak mengatakan “aku adalah muslim”. Lewat realitas sehari-hari kita dapat menyaksikan apa yang dikatakan oleh Supartono ini.
3. Budaya Barat Di Indonesia
Supartono mengatakan bahwa penyebaran budaya Barat di Indonesia pertama-tama lewat penjajahan. Ada beberapa negara Barat yang pernah menjajah yakni Portugis, Belanda, Inggris, dan Spanyol. Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia pada awalnya untuk memeroleh rempah-rempah secara murah dan menjualnya dengan harga tinggi di negerinya, sehingga memeroleh keuntungan yang sangat besar.
Selain untuk memeroleh keuntungan, kemudian secara efektif dilakukan sistem penjajahan, karena dengan cara ini mereka dapat memaksakan kehendaknya terutama dengan cara melakukan monopoli perdagangan. Setelah memperoleh kedudukan yang kuat, mereka menyebarkan budaya yang dapat pula secara efektif dilakukan.
Supartono menunjukkan budaya Barat di Indonesia tampak dalam budaya rohani dan budaya materi. Budaya rohani lebih pada penyebaran agama Katolik dan Kristen lainnya. Budaya materi lebih pada bangunan fisik yang masih nampak sekarang ini, seperti pembangunan rumah tempat tinggal, perkantoran, benteng, monumen maupun bangunan keagamaan yang mempunyai nilai keindahan. Selain budaya rohani dan materi, kaum penjajah juga memberikan pendidikan. Tujuan pendidikan selain untuk memermudah penyebaran agama juga untuk memeroleh tenaga murah di bidang administrasi yang makin banyak diperlukan kaitannya dengan perluasan kekuasaan di Indonesia.
Apa sumbangan paling menonjol dari budaya Barat untuk budaya Indonesia?
Kami melihat bahwa sumbangan budaya Barat di Indonesia sangat menonjol. Sumbangan yang dapat dilihat dari kedatangan Budaya Barat di Indonesia antara lain:
1. Budaya Rokhani
Kedatangan bangsa Protugis mempengaruhi dalam memberi nama kepada keturanannya. Perkembangan ini ditunjukkan dengan adanya agama Kristen. Dan muncul seni Keroncong Morisco.
Perkembangan dalam dunia pendidikan muncul setelah bangsa Belanda datang ke Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari politik pendidikan dari Belanda ( Gradualisme: pendidikan SD untuk anak bangsawan dan ELS untuk anak-anak rakyat biasa. Dualisme: perbedaan pendidikan Belanda dan Indonesia), Kontrol Sentral, Keterbatasan tujuan dan lain-lain.
Pemikiran tentang etika baik tentang irigasi, emigasi.
2. Budaya Materi
Budaya Materi yang mengarah kepada bentuk bangunan. Bentuk banguanan yang berbeda dengan bentuk bangunan dari agama Islam. Bentuk bangunan ini meliputi rumah tempat tinggal ( yang menekankan efisien tanah/ bentuk ruko). Gedung perkantoran yang dibangun dengan gaya bangunan Yunani –Romawi. Gedung sekolah, Bangunan Militer, Bangunan Pelayanan ( rumah sakit) dan bangunan Ibadah. Bentuk bangunan dari kebudayaan Barat lebih kuat dan terbuat dari bahan yang kuat.
Sumbangan dari kebudayaan Barat lebih menyeluruh dan menyakup seluruh aspek kehidupan manusia baik dalam bidang sosial, ibadah, pemerintahan, sekolah, politik, pertahanan keamanan dan lain-lain.
Perkembangan budaya Barat juga nampak dalam agama. Kita sampai saat ini menggunakan produk dan warisan dari budaya barat. Agama Kristen dan Katolik sangat berjasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Sekolah-sekolah, rumah sakit dan pelayanan sosial lainnya adalah tanda keterlibatannya untuk membangun Indonesia.
Agama Kristen yang dikenal orang sebagai warisan budaya Barat, menjadi pewaris budaya setempat. Agama memang mengubah budaya yang tidak “rasional”, tetapi sekaligus juga mengangkat budaya yang nilainya tinggi. Katolik misalnya; tidak datang untuk meniadakan budaya, melainkan menjaga dan masuk dalam budaya itu sendiri, atau dalam istilah sekarang “inkulturasi”. Banyak para misionaris menjadi penggagas dan pelopor untuk mengangkat budaya setempat. Misalnya menciptakan kamus bahasa setempat, membuat museum budaya setempat dan memajukan sumber daya manusia lewat pendidikan dan keterampilan.
Kami juga melihat bahwa salah satu hasil budaya Barat yang tetap dijalankan adalah libur pada hari minggu. Libur pada hari minggu tidak hanya menjadi milik orang Kristen tetapi menjadi hari keluarga bagi masyarakat Indonesia. Kami juga melihat bahwa hukum dan undang-undang yang berlaku di Indonesia adalah warisan dari produk Barat seperti Belanda. Hukum di Indonesia tidak berdasarkan atas sariah (hukum) Islam. Kami melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Supartono tentang budaya Barat di Indonesia adalah masuk akal. Kami setuju dengan pendapatnya karena apa yang dikatakan masih punya fakta dan masih dapat dirasakan oleh generasi sekarang ini.
4. Kesimpulan
Kami berpendapat bahwa apa yang disebut sebagai budaya Indonesia adalah hasil dari buah pikiran orang Indonesia pada zamannya yang didukung oleh dua warisan budaya Islam dan budaya Barat yang dijadikan menjadi satu oleh Founding Fathers negara ini yang adalah hasil dari didikan kedua budaya di atas. Mereka mengambil inti sari ke dua budaya di atas dengan cara baru dan dijadiklan menjadi milik Indonesia, yakni budaya Indonesia. Jadi, Budaya Indonesia tidak dibangun dari sudut budaya tertentu.
Oleh Lucius Tumanggor
1. Pengantar
Budaya Islam dan Budaya Barat masuk ke dalam budaya Indonesia. Mereka mem berikan sumbangan dalam perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia. Apakah benar kebudayaan Islam dan kebudayaan Barat memberikan sumbangan yang besar bagi kebudayaan bangsa Indonesia? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab sebelum mengetahui kebudayaan bangsa Indonesia. Di bawah ini kami akan mendiskusikan budaya Islam dan Barat di Indonesia dalam tulisan Supartono dan sumbangan apa yang menonjol untuk budaya Indonesia.
2. Budaya Islam Di Indonesia
Supartono melihat bahwa budaya Islam memiliki pengaruh kuat terhadap perubahan budaya Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan. Pengaruh yang kuat ditandai dengan lahirnya berbagai ciri-ciri dalam“wajah” keIndonesiaan secara khusus di tubuh keIslaman.
Supartono mengatakan bahwa Indonesia dari segi bangunan fisik terdapat beragam warisan Islam yang dieksport dari dunia Arab, seperti: Budaya istana. Dalam budaya istana ditemukan adanya tata pemerintahan, bangunan istana, masjid agung dan istana sebagai pusat budaya.
Dalam budaya istana dikatakan bahwa raja adalah pimpinan tertinggi suatu negara dan berperan besar terhadap soal agama. Bagi Indonesia, Supartono mengatakan bahwa raja digelari sebagai sultan. Gelar sultan bagi setiap raja diperoleh dari persetujuan kalif yang memerintah di Timur-Tengah. Sultan pun dipandang sebagai tanda kepala negara suatu negara Islam.
Dalam hal bangunan istana, Supartono mengatakan bahwa kualitas bangunan istana sultan lebih kuat dari bangunan-bangunan kerajaan sebelumnya. Dia menunjukkkan kualitas bangunan sarat dengan keamanan raja/sultan. Istana raja yang kuat merupakan benteng pertahanan terakhir suatu negara. Dan selain untuk pertahanan, istana sultan diperlukan guna menjungjung tinggi martabat raja terhadap raja lain maupun rakyatnya sendiri.
Supartono mengatakan bahwa seorang sultan berkewajiban membangun masjid agung untuk shalat warga dan sekaligus juga sebagai kebanggaannya. Masjid agung masih banyak dijumpai di Indonesia ini khususnya di provinsi-provinsi. Masjid agung dibuat sesuai dengan pola zamannya.
Supartono juga mengatakan bahwa istana sebagai pusat budaya. Sultan dapat berbuat banyak untuk perkembangan kebudayaan di negaranya. Budaya yang ditampilkan dalam istana dipandang bernilai tinggi, sehingga masyarakat biasa tidak boleh untuk meniru dan mempraktekkannya dalam konteks rakyat biasa.
Selain dari bangunan fisik, Supartono mengatakan kesenian istana. Kesenian istana memiliki ciri-ciri artistik yang tinggi, istana sebagai macro cosmos memberikan pancaran kepada rakyat sebagai micro cosmos, cerita-cerita yang ditampilkan menonjolkan nilai-nilai aristokrat, dan pertunjukan dipandang sakral.
Di Indonesia banyak dijumpai masjid. Supartono membedakan jenis masjid sesuai dengan perkembangan zaman kecuali masjid makam. Dia menyebut masjid tradisional, masjid makam, masjid modern, dan masjid kontemporer. Fungsi dari masjid ini adalah tempat persujudan, tempat untuk melakukan shalat.
Apa sumbangan yang paling menonjol dari budaya Islam untuk budaya Indonesia?
Indonesia di mata dunia dikenal sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tetapi tidak dapat dikatakan bahwa Indonesia adalah negara Islam, karena Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa, dan agama. keberagaman ini dinamakan “Bhineka Tunggal Ika” yang dikemas dalam satu sistem, yakni Pancasila.
Sumbangan yang dapat kita petik dari budaya Islam antara lain:
Tata pemerintahan ditunjukkan dengan pemberian gelar sultan kepada pemimpin kerajaan.
Bangunan Istana ternyata di pengaruhi kebudayaan Islam. Hal ini dapat dilihat mulainya perkembangan bahan bangunan istana. Bangunan ini terbuat dari batu bata dan sudah dilepa. Penjagaan Istana lebih diperkuat. Selain itu istana sebagai pusat kebudayaan dengan dikembangkan berbagai macam kebudayaan. Salah satunya dalam hal berpakai. Pakai sultan yang dulunya bagian dada terbuka sekarang bagian dada sudah tertutup
Bidang kesenian sudah muncul berbagai kesenian yang dipertontonkan untuk umum, dalam penampilan kesenian lebih merakyat, kadar artistiknya sudah tinggi. Cerita mempunyai nilai-nilai aristokratnya menonjol. Dan sifat pertunjukkanya lebih bersifat sakral. Sifat sakral ini karena diadakan pada hari-hari tertentu saja. Tidak ketinggalan dalam seni kaligrafi.
Munculnya berbagai bentuk bangunan mesjid-mesjid seperti mesjid makam, mesjid modern, mesjid Kontemporer.
Perkembangan yang tidak kalah pentingnya dari budaya Islam di Indonesia. Budaya Islam di Indonesia sangat menonjol dalam lingkaran spiritualisme dan kesufian (kaum ulamawan). Spiritualisme dan kesufian sangat memengaruhi budaya Indonesia di bidang kemasyarakatan dan kenegaraan. Dalam bahan pelajaran antropologi budaya II dituliskan bahwa konsep-konsep tentang adil, adab, rakyat, hikmat, musyawarah, dan wakil adalah sumber dari rumusan dari sila keempat dari pancasila. Sila keempat ini mirip dengan ungkapan Bahasa Arab yang sering dijadikan dalil dan pegangan para ulama, yakni “Ra’s al-hikmah al-mashurah (ra’sul hikmmati almasyuurah), pangkal kebijaksanaan adalah musyawarah”.
Selain tercermin dalam berbagai konsep budaya Islam di Indonesia tercermin dalam pilihan bahasa Melayu (Riau) sebagai bahasa nasional. Jika benar keterangan Sultan Takdir Alisyahbana yang mengatakan bahwa yang mengusulkan dijadikannya bahasa Melayu dan bukan bahasa Jawa misalnya, maka itu adalah petunjuk bahwa pemuda-pemuda Jawa sendiri pada saat itu telah menyadari bahwa bahasa Jawa yang bertingkat-tingkat itu tidak akan cocok untuk suatu masyarakat Indonesia yang mereka cita-citakan, yaitu suatu masyarakat yang modern. Kesadaran itu timbul, lepas dari kenyataan bahwa bahasa Jawa adalah bahasa yang paling kaya di Nusantara dari segi muatan budayanya. Dan muatan budaya bahasa Jawa yang kaya dan luas serta mendalam itu, seperti dengan jelas tercermin dalam kejawen, adalah terutama di bidang spiritualisme (atau, katakan, “kebatinan”). Dan spiritualisme Jawa itupun, seperti telah dikemukakan, banyak terpengaruh oleh sufisme, bentuk lain pengaruh penting Islam dalam budaya Indonesia.
Budaya Islam di Indonesia juga memiliki sisi negatif. Kami melihat bahwa budaya Islam di Indonesia membawa perubahan yang negatif. Masyarakat muslimin/muslimat justru bangga dengan keAraban dari pada kekhasan Indonesia. Misalnya; dalam hal berpakaian. Seorang wanita Indonesia yang biasa menggunakan sarung dan kebaya, kalah pamornya dengan gaun panjang dan jilbab yang menutupi kepala sampai lutut. Anak-anak laki-laki dan perempuan sangat bangga dengan kopiah dan gaun panjang dengan jilbab pergi ke sekolah walaupun sekolah itu adalah milik umum. Bangga dengan budaya Islam tidak hanya tampil lewat ibadah, tetapi juga kebanggaan dan jati dirinya ingin dikenal lewat berpakaian yang hendak mengatakan “aku adalah muslim”. Lewat realitas sehari-hari kita dapat menyaksikan apa yang dikatakan oleh Supartono ini.
3. Budaya Barat Di Indonesia
Supartono mengatakan bahwa penyebaran budaya Barat di Indonesia pertama-tama lewat penjajahan. Ada beberapa negara Barat yang pernah menjajah yakni Portugis, Belanda, Inggris, dan Spanyol. Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia pada awalnya untuk memeroleh rempah-rempah secara murah dan menjualnya dengan harga tinggi di negerinya, sehingga memeroleh keuntungan yang sangat besar.
Selain untuk memeroleh keuntungan, kemudian secara efektif dilakukan sistem penjajahan, karena dengan cara ini mereka dapat memaksakan kehendaknya terutama dengan cara melakukan monopoli perdagangan. Setelah memperoleh kedudukan yang kuat, mereka menyebarkan budaya yang dapat pula secara efektif dilakukan.
Supartono menunjukkan budaya Barat di Indonesia tampak dalam budaya rohani dan budaya materi. Budaya rohani lebih pada penyebaran agama Katolik dan Kristen lainnya. Budaya materi lebih pada bangunan fisik yang masih nampak sekarang ini, seperti pembangunan rumah tempat tinggal, perkantoran, benteng, monumen maupun bangunan keagamaan yang mempunyai nilai keindahan. Selain budaya rohani dan materi, kaum penjajah juga memberikan pendidikan. Tujuan pendidikan selain untuk memermudah penyebaran agama juga untuk memeroleh tenaga murah di bidang administrasi yang makin banyak diperlukan kaitannya dengan perluasan kekuasaan di Indonesia.
Apa sumbangan paling menonjol dari budaya Barat untuk budaya Indonesia?
Kami melihat bahwa sumbangan budaya Barat di Indonesia sangat menonjol. Sumbangan yang dapat dilihat dari kedatangan Budaya Barat di Indonesia antara lain:
1. Budaya Rokhani
Kedatangan bangsa Protugis mempengaruhi dalam memberi nama kepada keturanannya. Perkembangan ini ditunjukkan dengan adanya agama Kristen. Dan muncul seni Keroncong Morisco.
Perkembangan dalam dunia pendidikan muncul setelah bangsa Belanda datang ke Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari politik pendidikan dari Belanda ( Gradualisme: pendidikan SD untuk anak bangsawan dan ELS untuk anak-anak rakyat biasa. Dualisme: perbedaan pendidikan Belanda dan Indonesia), Kontrol Sentral, Keterbatasan tujuan dan lain-lain.
Pemikiran tentang etika baik tentang irigasi, emigasi.
2. Budaya Materi
Budaya Materi yang mengarah kepada bentuk bangunan. Bentuk banguanan yang berbeda dengan bentuk bangunan dari agama Islam. Bentuk bangunan ini meliputi rumah tempat tinggal ( yang menekankan efisien tanah/ bentuk ruko). Gedung perkantoran yang dibangun dengan gaya bangunan Yunani –Romawi. Gedung sekolah, Bangunan Militer, Bangunan Pelayanan ( rumah sakit) dan bangunan Ibadah. Bentuk bangunan dari kebudayaan Barat lebih kuat dan terbuat dari bahan yang kuat.
Sumbangan dari kebudayaan Barat lebih menyeluruh dan menyakup seluruh aspek kehidupan manusia baik dalam bidang sosial, ibadah, pemerintahan, sekolah, politik, pertahanan keamanan dan lain-lain.
Perkembangan budaya Barat juga nampak dalam agama. Kita sampai saat ini menggunakan produk dan warisan dari budaya barat. Agama Kristen dan Katolik sangat berjasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Sekolah-sekolah, rumah sakit dan pelayanan sosial lainnya adalah tanda keterlibatannya untuk membangun Indonesia.
Agama Kristen yang dikenal orang sebagai warisan budaya Barat, menjadi pewaris budaya setempat. Agama memang mengubah budaya yang tidak “rasional”, tetapi sekaligus juga mengangkat budaya yang nilainya tinggi. Katolik misalnya; tidak datang untuk meniadakan budaya, melainkan menjaga dan masuk dalam budaya itu sendiri, atau dalam istilah sekarang “inkulturasi”. Banyak para misionaris menjadi penggagas dan pelopor untuk mengangkat budaya setempat. Misalnya menciptakan kamus bahasa setempat, membuat museum budaya setempat dan memajukan sumber daya manusia lewat pendidikan dan keterampilan.
Kami juga melihat bahwa salah satu hasil budaya Barat yang tetap dijalankan adalah libur pada hari minggu. Libur pada hari minggu tidak hanya menjadi milik orang Kristen tetapi menjadi hari keluarga bagi masyarakat Indonesia. Kami juga melihat bahwa hukum dan undang-undang yang berlaku di Indonesia adalah warisan dari produk Barat seperti Belanda. Hukum di Indonesia tidak berdasarkan atas sariah (hukum) Islam. Kami melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Supartono tentang budaya Barat di Indonesia adalah masuk akal. Kami setuju dengan pendapatnya karena apa yang dikatakan masih punya fakta dan masih dapat dirasakan oleh generasi sekarang ini.
4. Kesimpulan
Kami berpendapat bahwa apa yang disebut sebagai budaya Indonesia adalah hasil dari buah pikiran orang Indonesia pada zamannya yang didukung oleh dua warisan budaya Islam dan budaya Barat yang dijadikan menjadi satu oleh Founding Fathers negara ini yang adalah hasil dari didikan kedua budaya di atas. Mereka mengambil inti sari ke dua budaya di atas dengan cara baru dan dijadiklan menjadi milik Indonesia, yakni budaya Indonesia. Jadi, Budaya Indonesia tidak dibangun dari sudut budaya tertentu.
budaya islam dan Barat di Indonesia menurut Supartono
Budaya Islam Dan Barat Di Indonesia Menurut Supartono
Oleh Lucius Tumanggor
1. Pengantar
Budaya Islam dan Budaya Barat masuk ke dalam budaya Indonesia. Mereka mem berikan sumbangan dalam perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia. Apakah benar kebudayaan Islam dan kebudayaan Barat memberikan sumbangan yang besar bagi kebudayaan bangsa Indonesia? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab sebelum mengetahui kebudayaan bangsa Indonesia. Di bawah ini kami akan mendiskusikan budaya Islam dan Barat di Indonesia dalam tulisan Supartono dan sumbangan apa yang menonjol untuk budaya Indonesia.
2. Budaya Islam Di Indonesia
Supartono melihat bahwa budaya Islam memiliki pengaruh kuat terhadap perubahan budaya Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan. Pengaruh yang kuat ditandai dengan lahirnya berbagai ciri-ciri dalam“wajah” keIndonesiaan secara khusus di tubuh keIslaman.
Supartono mengatakan bahwa Indonesia dari segi bangunan fisik terdapat beragam warisan Islam yang dieksport dari dunia Arab, seperti: Budaya istana. Dalam budaya istana ditemukan adanya tata pemerintahan, bangunan istana, masjid agung dan istana sebagai pusat budaya.
Dalam budaya istana dikatakan bahwa raja adalah pimpinan tertinggi suatu negara dan berperan besar terhadap soal agama. Bagi Indonesia, Supartono mengatakan bahwa raja digelari sebagai sultan. Gelar sultan bagi setiap raja diperoleh dari persetujuan kalif yang memerintah di Timur-Tengah. Sultan pun dipandang sebagai tanda kepala negara suatu negara Islam.
Dalam hal bangunan istana, Supartono mengatakan bahwa kualitas bangunan istana sultan lebih kuat dari bangunan-bangunan kerajaan sebelumnya. Dia menunjukkkan kualitas bangunan sarat dengan keamanan raja/sultan. Istana raja yang kuat merupakan benteng pertahanan terakhir suatu negara. Dan selain untuk pertahanan, istana sultan diperlukan guna menjungjung tinggi martabat raja terhadap raja lain maupun rakyatnya sendiri.
Supartono mengatakan bahwa seorang sultan berkewajiban membangun masjid agung untuk shalat warga dan sekaligus juga sebagai kebanggaannya. Masjid agung masih banyak dijumpai di Indonesia ini khususnya di provinsi-provinsi. Masjid agung dibuat sesuai dengan pola zamannya.
Supartono juga mengatakan bahwa istana sebagai pusat budaya. Sultan dapat berbuat banyak untuk perkembangan kebudayaan di negaranya. Budaya yang ditampilkan dalam istana dipandang bernilai tinggi, sehingga masyarakat biasa tidak boleh untuk meniru dan mempraktekkannya dalam konteks rakyat biasa.
Selain dari bangunan fisik, Supartono mengatakan kesenian istana. Kesenian istana memiliki ciri-ciri artistik yang tinggi, istana sebagai macro cosmos memberikan pancaran kepada rakyat sebagai micro cosmos, cerita-cerita yang ditampilkan menonjolkan nilai-nilai aristokrat, dan pertunjukan dipandang sakral.
Di Indonesia banyak dijumpai masjid. Supartono membedakan jenis masjid sesuai dengan perkembangan zaman kecuali masjid makam. Dia menyebut masjid tradisional, masjid makam, masjid modern, dan masjid kontemporer. Fungsi dari masjid ini adalah tempat persujudan, tempat untuk melakukan shalat.
Apa sumbangan yang paling menonjol dari budaya Islam untuk budaya Indonesia?
Indonesia di mata dunia dikenal sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tetapi tidak dapat dikatakan bahwa Indonesia adalah negara Islam, karena Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa, dan agama. keberagaman ini dinamakan “Bhineka Tunggal Ika” yang dikemas dalam satu sistem, yakni Pancasila.
Sumbangan yang dapat kita petik dari budaya Islam antara lain:
Tata pemerintahan ditunjukkan dengan pemberian gelar sultan kepada pemimpin kerajaan.
Bangunan Istana ternyata di pengaruhi kebudayaan Islam. Hal ini dapat dilihat mulainya perkembangan bahan bangunan istana. Bangunan ini terbuat dari batu bata dan sudah dilepa. Penjagaan Istana lebih diperkuat. Selain itu istana sebagai pusat kebudayaan dengan dikembangkan berbagai macam kebudayaan. Salah satunya dalam hal berpakai. Pakai sultan yang dulunya bagian dada terbuka sekarang bagian dada sudah tertutup
Bidang kesenian sudah muncul berbagai kesenian yang dipertontonkan untuk umum, dalam penampilan kesenian lebih merakyat, kadar artistiknya sudah tinggi. Cerita mempunyai nilai-nilai aristokratnya menonjol. Dan sifat pertunjukkanya lebih bersifat sakral. Sifat sakral ini karena diadakan pada hari-hari tertentu saja. Tidak ketinggalan dalam seni kaligrafi.
Munculnya berbagai bentuk bangunan mesjid-mesjid seperti mesjid makam, mesjid modern, mesjid Kontemporer.
Perkembangan yang tidak kalah pentingnya dari budaya Islam di Indonesia. Budaya Islam di Indonesia sangat menonjol dalam lingkaran spiritualisme dan kesufian (kaum ulamawan). Spiritualisme dan kesufian sangat memengaruhi budaya Indonesia di bidang kemasyarakatan dan kenegaraan. Dalam bahan pelajaran antropologi budaya II dituliskan bahwa konsep-konsep tentang adil, adab, rakyat, hikmat, musyawarah, dan wakil adalah sumber dari rumusan dari sila keempat dari pancasila. Sila keempat ini mirip dengan ungkapan Bahasa Arab yang sering dijadikan dalil dan pegangan para ulama, yakni “Ra’s al-hikmah al-mashurah (ra’sul hikmmati almasyuurah), pangkal kebijaksanaan adalah musyawarah”.
Selain tercermin dalam berbagai konsep budaya Islam di Indonesia tercermin dalam pilihan bahasa Melayu (Riau) sebagai bahasa nasional. Jika benar keterangan Sultan Takdir Alisyahbana yang mengatakan bahwa yang mengusulkan dijadikannya bahasa Melayu dan bukan bahasa Jawa misalnya, maka itu adalah petunjuk bahwa pemuda-pemuda Jawa sendiri pada saat itu telah menyadari bahwa bahasa Jawa yang bertingkat-tingkat itu tidak akan cocok untuk suatu masyarakat Indonesia yang mereka cita-citakan, yaitu suatu masyarakat yang modern. Kesadaran itu timbul, lepas dari kenyataan bahwa bahasa Jawa adalah bahasa yang paling kaya di Nusantara dari segi muatan budayanya. Dan muatan budaya bahasa Jawa yang kaya dan luas serta mendalam itu, seperti dengan jelas tercermin dalam kejawen, adalah terutama di bidang spiritualisme (atau, katakan, “kebatinan”). Dan spiritualisme Jawa itupun, seperti telah dikemukakan, banyak terpengaruh oleh sufisme, bentuk lain pengaruh penting Islam dalam budaya Indonesia.
Budaya Islam di Indonesia juga memiliki sisi negatif. Kami melihat bahwa budaya Islam di Indonesia membawa perubahan yang negatif. Masyarakat muslimin/muslimat justru bangga dengan keAraban dari pada kekhasan Indonesia. Misalnya; dalam hal berpakaian. Seorang wanita Indonesia yang biasa menggunakan sarung dan kebaya, kalah pamornya dengan gaun panjang dan jilbab yang menutupi kepala sampai lutut. Anak-anak laki-laki dan perempuan sangat bangga dengan kopiah dan gaun panjang dengan jilbab pergi ke sekolah walaupun sekolah itu adalah milik umum. Bangga dengan budaya Islam tidak hanya tampil lewat ibadah, tetapi juga kebanggaan dan jati dirinya ingin dikenal lewat berpakaian yang hendak mengatakan “aku adalah muslim”. Lewat realitas sehari-hari kita dapat menyaksikan apa yang dikatakan oleh Supartono ini.
3. Budaya Barat Di Indonesia
Supartono mengatakan bahwa penyebaran budaya Barat di Indonesia pertama-tama lewat penjajahan. Ada beberapa negara Barat yang pernah menjajah yakni Portugis, Belanda, Inggris, dan Spanyol. Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia pada awalnya untuk memeroleh rempah-rempah secara murah dan menjualnya dengan harga tinggi di negerinya, sehingga memeroleh keuntungan yang sangat besar.
Selain untuk memeroleh keuntungan, kemudian secara efektif dilakukan sistem penjajahan, karena dengan cara ini mereka dapat memaksakan kehendaknya terutama dengan cara melakukan monopoli perdagangan. Setelah memperoleh kedudukan yang kuat, mereka menyebarkan budaya yang dapat pula secara efektif dilakukan.
Supartono menunjukkan budaya Barat di Indonesia tampak dalam budaya rohani dan budaya materi. Budaya rohani lebih pada penyebaran agama Katolik dan Kristen lainnya. Budaya materi lebih pada bangunan fisik yang masih nampak sekarang ini, seperti pembangunan rumah tempat tinggal, perkantoran, benteng, monumen maupun bangunan keagamaan yang mempunyai nilai keindahan. Selain budaya rohani dan materi, kaum penjajah juga memberikan pendidikan. Tujuan pendidikan selain untuk memermudah penyebaran agama juga untuk memeroleh tenaga murah di bidang administrasi yang makin banyak diperlukan kaitannya dengan perluasan kekuasaan di Indonesia.
Apa sumbangan paling menonjol dari budaya Barat untuk budaya Indonesia?
Kami melihat bahwa sumbangan budaya Barat di Indonesia sangat menonjol. Sumbangan yang dapat dilihat dari kedatangan Budaya Barat di Indonesia antara lain:
1. Budaya Rokhani
Kedatangan bangsa Protugis mempengaruhi dalam memberi nama kepada keturanannya. Perkembangan ini ditunjukkan dengan adanya agama Kristen. Dan muncul seni Keroncong Morisco.
Perkembangan dalam dunia pendidikan muncul setelah bangsa Belanda datang ke Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari politik pendidikan dari Belanda ( Gradualisme: pendidikan SD untuk anak bangsawan dan ELS untuk anak-anak rakyat biasa. Dualisme: perbedaan pendidikan Belanda dan Indonesia), Kontrol Sentral, Keterbatasan tujuan dan lain-lain.
Pemikiran tentang etika baik tentang irigasi, emigasi.
2. Budaya Materi
Budaya Materi yang mengarah kepada bentuk bangunan. Bentuk banguanan yang berbeda dengan bentuk bangunan dari agama Islam. Bentuk bangunan ini meliputi rumah tempat tinggal ( yang menekankan efisien tanah/ bentuk ruko). Gedung perkantoran yang dibangun dengan gaya bangunan Yunani –Romawi. Gedung sekolah, Bangunan Militer, Bangunan Pelayanan ( rumah sakit) dan bangunan Ibadah. Bentuk bangunan dari kebudayaan Barat lebih kuat dan terbuat dari bahan yang kuat.
Sumbangan dari kebudayaan Barat lebih menyeluruh dan menyakup seluruh aspek kehidupan manusia baik dalam bidang sosial, ibadah, pemerintahan, sekolah, politik, pertahanan keamanan dan lain-lain.
Perkembangan budaya Barat juga nampak dalam agama. Kita sampai saat ini menggunakan produk dan warisan dari budaya barat. Agama Kristen dan Katolik sangat berjasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Sekolah-sekolah, rumah sakit dan pelayanan sosial lainnya adalah tanda keterlibatannya untuk membangun Indonesia.
Agama Kristen yang dikenal orang sebagai warisan budaya Barat, menjadi pewaris budaya setempat. Agama memang mengubah budaya yang tidak “rasional”, tetapi sekaligus juga mengangkat budaya yang nilainya tinggi. Katolik misalnya; tidak datang untuk meniadakan budaya, melainkan menjaga dan masuk dalam budaya itu sendiri, atau dalam istilah sekarang “inkulturasi”. Banyak para misionaris menjadi penggagas dan pelopor untuk mengangkat budaya setempat. Misalnya menciptakan kamus bahasa setempat, membuat museum budaya setempat dan memajukan sumber daya manusia lewat pendidikan dan keterampilan.
Kami juga melihat bahwa salah satu hasil budaya Barat yang tetap dijalankan adalah libur pada hari minggu. Libur pada hari minggu tidak hanya menjadi milik orang Kristen tetapi menjadi hari keluarga bagi masyarakat Indonesia. Kami juga melihat bahwa hukum dan undang-undang yang berlaku di Indonesia adalah warisan dari produk Barat seperti Belanda. Hukum di Indonesia tidak berdasarkan atas sariah (hukum) Islam. Kami melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Supartono tentang budaya Barat di Indonesia adalah masuk akal. Kami setuju dengan pendapatnya karena apa yang dikatakan masih punya fakta dan masih dapat dirasakan oleh generasi sekarang ini.
4. Kesimpulan
Kami berpendapat bahwa apa yang disebut sebagai budaya Indonesia adalah hasil dari buah pikiran orang Indonesia pada zamannya yang didukung oleh dua warisan budaya Islam dan budaya Barat yang dijadikan menjadi satu oleh Founding Fathers negara ini yang adalah hasil dari didikan kedua budaya di atas. Mereka mengambil inti sari ke dua budaya di atas dengan cara baru dan dijadiklan menjadi milik Indonesia, yakni budaya Indonesia. Jadi, Budaya Indonesia tidak dibangun dari sudut budaya tertentu.
Oleh Lucius Tumanggor
1. Pengantar
Budaya Islam dan Budaya Barat masuk ke dalam budaya Indonesia. Mereka mem berikan sumbangan dalam perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia. Apakah benar kebudayaan Islam dan kebudayaan Barat memberikan sumbangan yang besar bagi kebudayaan bangsa Indonesia? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab sebelum mengetahui kebudayaan bangsa Indonesia. Di bawah ini kami akan mendiskusikan budaya Islam dan Barat di Indonesia dalam tulisan Supartono dan sumbangan apa yang menonjol untuk budaya Indonesia.
2. Budaya Islam Di Indonesia
Supartono melihat bahwa budaya Islam memiliki pengaruh kuat terhadap perubahan budaya Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan. Pengaruh yang kuat ditandai dengan lahirnya berbagai ciri-ciri dalam“wajah” keIndonesiaan secara khusus di tubuh keIslaman.
Supartono mengatakan bahwa Indonesia dari segi bangunan fisik terdapat beragam warisan Islam yang dieksport dari dunia Arab, seperti: Budaya istana. Dalam budaya istana ditemukan adanya tata pemerintahan, bangunan istana, masjid agung dan istana sebagai pusat budaya.
Dalam budaya istana dikatakan bahwa raja adalah pimpinan tertinggi suatu negara dan berperan besar terhadap soal agama. Bagi Indonesia, Supartono mengatakan bahwa raja digelari sebagai sultan. Gelar sultan bagi setiap raja diperoleh dari persetujuan kalif yang memerintah di Timur-Tengah. Sultan pun dipandang sebagai tanda kepala negara suatu negara Islam.
Dalam hal bangunan istana, Supartono mengatakan bahwa kualitas bangunan istana sultan lebih kuat dari bangunan-bangunan kerajaan sebelumnya. Dia menunjukkkan kualitas bangunan sarat dengan keamanan raja/sultan. Istana raja yang kuat merupakan benteng pertahanan terakhir suatu negara. Dan selain untuk pertahanan, istana sultan diperlukan guna menjungjung tinggi martabat raja terhadap raja lain maupun rakyatnya sendiri.
Supartono mengatakan bahwa seorang sultan berkewajiban membangun masjid agung untuk shalat warga dan sekaligus juga sebagai kebanggaannya. Masjid agung masih banyak dijumpai di Indonesia ini khususnya di provinsi-provinsi. Masjid agung dibuat sesuai dengan pola zamannya.
Supartono juga mengatakan bahwa istana sebagai pusat budaya. Sultan dapat berbuat banyak untuk perkembangan kebudayaan di negaranya. Budaya yang ditampilkan dalam istana dipandang bernilai tinggi, sehingga masyarakat biasa tidak boleh untuk meniru dan mempraktekkannya dalam konteks rakyat biasa.
Selain dari bangunan fisik, Supartono mengatakan kesenian istana. Kesenian istana memiliki ciri-ciri artistik yang tinggi, istana sebagai macro cosmos memberikan pancaran kepada rakyat sebagai micro cosmos, cerita-cerita yang ditampilkan menonjolkan nilai-nilai aristokrat, dan pertunjukan dipandang sakral.
Di Indonesia banyak dijumpai masjid. Supartono membedakan jenis masjid sesuai dengan perkembangan zaman kecuali masjid makam. Dia menyebut masjid tradisional, masjid makam, masjid modern, dan masjid kontemporer. Fungsi dari masjid ini adalah tempat persujudan, tempat untuk melakukan shalat.
Apa sumbangan yang paling menonjol dari budaya Islam untuk budaya Indonesia?
Indonesia di mata dunia dikenal sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tetapi tidak dapat dikatakan bahwa Indonesia adalah negara Islam, karena Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa, dan agama. keberagaman ini dinamakan “Bhineka Tunggal Ika” yang dikemas dalam satu sistem, yakni Pancasila.
Sumbangan yang dapat kita petik dari budaya Islam antara lain:
Tata pemerintahan ditunjukkan dengan pemberian gelar sultan kepada pemimpin kerajaan.
Bangunan Istana ternyata di pengaruhi kebudayaan Islam. Hal ini dapat dilihat mulainya perkembangan bahan bangunan istana. Bangunan ini terbuat dari batu bata dan sudah dilepa. Penjagaan Istana lebih diperkuat. Selain itu istana sebagai pusat kebudayaan dengan dikembangkan berbagai macam kebudayaan. Salah satunya dalam hal berpakai. Pakai sultan yang dulunya bagian dada terbuka sekarang bagian dada sudah tertutup
Bidang kesenian sudah muncul berbagai kesenian yang dipertontonkan untuk umum, dalam penampilan kesenian lebih merakyat, kadar artistiknya sudah tinggi. Cerita mempunyai nilai-nilai aristokratnya menonjol. Dan sifat pertunjukkanya lebih bersifat sakral. Sifat sakral ini karena diadakan pada hari-hari tertentu saja. Tidak ketinggalan dalam seni kaligrafi.
Munculnya berbagai bentuk bangunan mesjid-mesjid seperti mesjid makam, mesjid modern, mesjid Kontemporer.
Perkembangan yang tidak kalah pentingnya dari budaya Islam di Indonesia. Budaya Islam di Indonesia sangat menonjol dalam lingkaran spiritualisme dan kesufian (kaum ulamawan). Spiritualisme dan kesufian sangat memengaruhi budaya Indonesia di bidang kemasyarakatan dan kenegaraan. Dalam bahan pelajaran antropologi budaya II dituliskan bahwa konsep-konsep tentang adil, adab, rakyat, hikmat, musyawarah, dan wakil adalah sumber dari rumusan dari sila keempat dari pancasila. Sila keempat ini mirip dengan ungkapan Bahasa Arab yang sering dijadikan dalil dan pegangan para ulama, yakni “Ra’s al-hikmah al-mashurah (ra’sul hikmmati almasyuurah), pangkal kebijaksanaan adalah musyawarah”.
Selain tercermin dalam berbagai konsep budaya Islam di Indonesia tercermin dalam pilihan bahasa Melayu (Riau) sebagai bahasa nasional. Jika benar keterangan Sultan Takdir Alisyahbana yang mengatakan bahwa yang mengusulkan dijadikannya bahasa Melayu dan bukan bahasa Jawa misalnya, maka itu adalah petunjuk bahwa pemuda-pemuda Jawa sendiri pada saat itu telah menyadari bahwa bahasa Jawa yang bertingkat-tingkat itu tidak akan cocok untuk suatu masyarakat Indonesia yang mereka cita-citakan, yaitu suatu masyarakat yang modern. Kesadaran itu timbul, lepas dari kenyataan bahwa bahasa Jawa adalah bahasa yang paling kaya di Nusantara dari segi muatan budayanya. Dan muatan budaya bahasa Jawa yang kaya dan luas serta mendalam itu, seperti dengan jelas tercermin dalam kejawen, adalah terutama di bidang spiritualisme (atau, katakan, “kebatinan”). Dan spiritualisme Jawa itupun, seperti telah dikemukakan, banyak terpengaruh oleh sufisme, bentuk lain pengaruh penting Islam dalam budaya Indonesia.
Budaya Islam di Indonesia juga memiliki sisi negatif. Kami melihat bahwa budaya Islam di Indonesia membawa perubahan yang negatif. Masyarakat muslimin/muslimat justru bangga dengan keAraban dari pada kekhasan Indonesia. Misalnya; dalam hal berpakaian. Seorang wanita Indonesia yang biasa menggunakan sarung dan kebaya, kalah pamornya dengan gaun panjang dan jilbab yang menutupi kepala sampai lutut. Anak-anak laki-laki dan perempuan sangat bangga dengan kopiah dan gaun panjang dengan jilbab pergi ke sekolah walaupun sekolah itu adalah milik umum. Bangga dengan budaya Islam tidak hanya tampil lewat ibadah, tetapi juga kebanggaan dan jati dirinya ingin dikenal lewat berpakaian yang hendak mengatakan “aku adalah muslim”. Lewat realitas sehari-hari kita dapat menyaksikan apa yang dikatakan oleh Supartono ini.
3. Budaya Barat Di Indonesia
Supartono mengatakan bahwa penyebaran budaya Barat di Indonesia pertama-tama lewat penjajahan. Ada beberapa negara Barat yang pernah menjajah yakni Portugis, Belanda, Inggris, dan Spanyol. Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia pada awalnya untuk memeroleh rempah-rempah secara murah dan menjualnya dengan harga tinggi di negerinya, sehingga memeroleh keuntungan yang sangat besar.
Selain untuk memeroleh keuntungan, kemudian secara efektif dilakukan sistem penjajahan, karena dengan cara ini mereka dapat memaksakan kehendaknya terutama dengan cara melakukan monopoli perdagangan. Setelah memperoleh kedudukan yang kuat, mereka menyebarkan budaya yang dapat pula secara efektif dilakukan.
Supartono menunjukkan budaya Barat di Indonesia tampak dalam budaya rohani dan budaya materi. Budaya rohani lebih pada penyebaran agama Katolik dan Kristen lainnya. Budaya materi lebih pada bangunan fisik yang masih nampak sekarang ini, seperti pembangunan rumah tempat tinggal, perkantoran, benteng, monumen maupun bangunan keagamaan yang mempunyai nilai keindahan. Selain budaya rohani dan materi, kaum penjajah juga memberikan pendidikan. Tujuan pendidikan selain untuk memermudah penyebaran agama juga untuk memeroleh tenaga murah di bidang administrasi yang makin banyak diperlukan kaitannya dengan perluasan kekuasaan di Indonesia.
Apa sumbangan paling menonjol dari budaya Barat untuk budaya Indonesia?
Kami melihat bahwa sumbangan budaya Barat di Indonesia sangat menonjol. Sumbangan yang dapat dilihat dari kedatangan Budaya Barat di Indonesia antara lain:
1. Budaya Rokhani
Kedatangan bangsa Protugis mempengaruhi dalam memberi nama kepada keturanannya. Perkembangan ini ditunjukkan dengan adanya agama Kristen. Dan muncul seni Keroncong Morisco.
Perkembangan dalam dunia pendidikan muncul setelah bangsa Belanda datang ke Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari politik pendidikan dari Belanda ( Gradualisme: pendidikan SD untuk anak bangsawan dan ELS untuk anak-anak rakyat biasa. Dualisme: perbedaan pendidikan Belanda dan Indonesia), Kontrol Sentral, Keterbatasan tujuan dan lain-lain.
Pemikiran tentang etika baik tentang irigasi, emigasi.
2. Budaya Materi
Budaya Materi yang mengarah kepada bentuk bangunan. Bentuk banguanan yang berbeda dengan bentuk bangunan dari agama Islam. Bentuk bangunan ini meliputi rumah tempat tinggal ( yang menekankan efisien tanah/ bentuk ruko). Gedung perkantoran yang dibangun dengan gaya bangunan Yunani –Romawi. Gedung sekolah, Bangunan Militer, Bangunan Pelayanan ( rumah sakit) dan bangunan Ibadah. Bentuk bangunan dari kebudayaan Barat lebih kuat dan terbuat dari bahan yang kuat.
Sumbangan dari kebudayaan Barat lebih menyeluruh dan menyakup seluruh aspek kehidupan manusia baik dalam bidang sosial, ibadah, pemerintahan, sekolah, politik, pertahanan keamanan dan lain-lain.
Perkembangan budaya Barat juga nampak dalam agama. Kita sampai saat ini menggunakan produk dan warisan dari budaya barat. Agama Kristen dan Katolik sangat berjasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Sekolah-sekolah, rumah sakit dan pelayanan sosial lainnya adalah tanda keterlibatannya untuk membangun Indonesia.
Agama Kristen yang dikenal orang sebagai warisan budaya Barat, menjadi pewaris budaya setempat. Agama memang mengubah budaya yang tidak “rasional”, tetapi sekaligus juga mengangkat budaya yang nilainya tinggi. Katolik misalnya; tidak datang untuk meniadakan budaya, melainkan menjaga dan masuk dalam budaya itu sendiri, atau dalam istilah sekarang “inkulturasi”. Banyak para misionaris menjadi penggagas dan pelopor untuk mengangkat budaya setempat. Misalnya menciptakan kamus bahasa setempat, membuat museum budaya setempat dan memajukan sumber daya manusia lewat pendidikan dan keterampilan.
Kami juga melihat bahwa salah satu hasil budaya Barat yang tetap dijalankan adalah libur pada hari minggu. Libur pada hari minggu tidak hanya menjadi milik orang Kristen tetapi menjadi hari keluarga bagi masyarakat Indonesia. Kami juga melihat bahwa hukum dan undang-undang yang berlaku di Indonesia adalah warisan dari produk Barat seperti Belanda. Hukum di Indonesia tidak berdasarkan atas sariah (hukum) Islam. Kami melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Supartono tentang budaya Barat di Indonesia adalah masuk akal. Kami setuju dengan pendapatnya karena apa yang dikatakan masih punya fakta dan masih dapat dirasakan oleh generasi sekarang ini.
4. Kesimpulan
Kami berpendapat bahwa apa yang disebut sebagai budaya Indonesia adalah hasil dari buah pikiran orang Indonesia pada zamannya yang didukung oleh dua warisan budaya Islam dan budaya Barat yang dijadikan menjadi satu oleh Founding Fathers negara ini yang adalah hasil dari didikan kedua budaya di atas. Mereka mengambil inti sari ke dua budaya di atas dengan cara baru dan dijadiklan menjadi milik Indonesia, yakni budaya Indonesia. Jadi, Budaya Indonesia tidak dibangun dari sudut budaya tertentu.
Langganan:
Postingan (Atom)